your agriculture

Senin, 03 Januari 2011

Menentukan Jarak Tanam pada Pohon Mangga



Sebelum menentukan jarak tanam, kita harus memperhatikan cara-cara aturan tanam. Aturan tanam tersebut ialah secar bujur sangkar atau segitiga. Kedua pohon ditanam pada tiap-tiap sudut segitiga atau segi empat. Supaya dapat menempatkan pohon dengan baik, maka digunakan alat yang dinamakan square atau boleh juga dipakai hoekspigel.

Kalau kedua alat ini tidak bisa diperoleh, maka alat tersebut bisa dibuat sendiri dengan cara sebagai berikut:

Ambil 2 (dua) bilah kayu atau multipleks yang panjangnya kira-kira 40 – 50 cm dan lebar kira–kira 6 – 8 cm. kemudian buatlah garis lurus pada pertengahan bilah tersebut dari ujung ke ujung. Kira-kira 5 cm dari ke dua bilah ujung di atas garis tengah ditancapkan paku sehingga tersembul kurang lebih 3,5 cm. Kedua bilah kayu tersebut kemudian dipersilangkan di tengah-tengah untuk memperoleh sudut 90˚ (menggunakan garis siku-siku). Hasil silang tersebut merupakan titik tengah; kemudian dipaku pada sebuah ujung tongkat yang panjangnya kira-kira 1 (satu) meter. Maka dengan alat pengukut sederhana ini kita dapat menarik garis lurus.

Setelah segala peralatan disiapkan, jarak tanam dapat ditentukan dengan memberi ajir (patok), yang pada saatnya kelak pohon mangga itu ditanam. Jarak tanam yang sesuai ialah antara 14 – 15 m, dan bahkan ada yang menanam dengan jarak 18 meter. Pohon-pohon ini ditanam dengan posisi berbaris, rapi dan teratur. Hal ini dimaksudkan supaya:

1. Apabila pohon mangga sudah menginjak dewasa, yakni umur 10 tahun ke atas, mahkota daunnya tidak saling bersinggungan.

2. Memudahkan pemeliharaan, terutama pada saat pemangkasan dan pemetikan hasil.

3. Sinar matahari masih dapat masuk sampai ke bawah, sehingga kondisi tanah di bawah pohon tidak terlalu lembab, dan bisa membunuh kepompong-kepompong ulat penggerek, serta mencegah tumbuhnya berbagai jenis jamur yang mengganggu perakaran pohon mangga.

Selain itu, suhu yang panas dan udara serta kondisi tanah yang lembab amat disukai penyakit Gloeosporium. Peristiwa semacam ini akan mengakibatkan perubahana warna pada cabang-cabang muda yang prosesnya dimulai dari pucuk; mula-mula ada bintik-bintik coklat, lama-kelamaan cabang muda itu mati.

Tanaman mangga selain ditanam menurut jarak tertentu, bisa juga diatur cara penanamannya, supaya kelihatan rapi dan indah. Di samping itu, cara pengaturan jarak tanam juga mempengaruhi produksi, cara pemeliharaan dan khususnya untuk pangkas pembentukan mahkota daun. Ada berbagai cara pengaturan jarak tanam, yaitu :

1. Cara bujur sangkar

2. Cara Quincunx (diagonal)

3. Cara Hexagonal (segitiga sama sisi)

4. Cara Contour

Rabu, 29 Desember 2010

Penyediaan dan Pengolahan Tanah



Semua petani mangga ataupun para peminat lainnya, sebelum memulai bercocok tanam mangga secara besar-besaran dengan areal yang luas, maupun yang hanya menanam di sekitar pekarangan saja, maka perlu sekali melihat kondisi tanah yang akan ditanami. Mereka harus memperhatikan, mulai dari jenis tanah, pH tanah, ketebalan lapisan tanah atas kondisi air tanah serta derajat kemiringan tanah.
Jenis tanah yang padat (liat), pH tanah yang terlalu masam, terutama tanah di rawa-rawa dengan ketebalan pada lapisan tanah atas yang tipis, serta kondisi air tanah yang letaknya lebih dalam dari 200 cm dari permukaan tanah tidak lagi dapat dihisap oleh akar pohon buah-buahan. Kondisi semacam itu tidak akan menguntungkan bagi tanaman buah-buahan, khususnya tanaman mangga.
Apabila kita ingin membuka kebun buah-buahan, areal atau media tanam harus dipersiapkan dengan matang. Sebab hanya pada tanah yang suburlah tanaman buah-buahan dapat tumbuh dengan baik, termasuk tanaman mangga. Pada umumnya tanah yang banyak mengandung zat hara adalah tanah yang berasal dari letusan gunung berapi.
Tanah yang kurang subur, dapat ditambahkan pupuk kandang atau pupuk hijau. Agar supaya tanaman itu di kemudian hari bisa tumbuh subur, kecuali diberi pupuk, seluruh kebun juga harus dibajak atau dicangkul.
Bagi tanah yang pembuangan airnya kurang baik, harus diusahakan ada drainase (saluran pembuangan air). Hal semacam ini sering dialami di daerah dataran rendah, dan kondisi tanahnya padat. Tanah yang kurang subur akibat kandungan humusnya sangat rendah, atau tanahnya padat, maka tanah tersebut bisa ditanami tanaman yang dapat menghasilkan pupuk hijau.
Cara pengerjaan tanah yang akan ditanami tanaman mangga yang berasal dari bibit okulasi, berbeda dengan pengerjaan tanah yang bibitnya berasal dari bibit cangkokan. Pengerjaan tanah untuk bibit okulasi harus lebih dalam daripada yang bibitnya berasal dari cangkokan. Sebab pertumbuhan akar dari bibit cangkokan melebar, sedangkan yang okulasi lebih dalam. Setelah tanah itu selesai deikerjakan maka mulai dipasang ajir dan menentukan jarak tanam. Dengan pengajiran dan melakukan pengaturan jarak tanam ini, maka jumlah bibit yang diperlukan untuk ditanam bisa diperhitungkan.

Selasa, 28 Desember 2010

Daun pada Pohon Mangga




Daun terdiri dari dua bagian, yaitu tangkai daun dan badan (piring) daun. Badan daun bertulang-tulang dan berurat-urat; antara tulang dan urat tertutup daging daun atau hijau daun. Daging daun terdiri dari kumpulan sel-sel yang tidak terhingga banyaknya. Di dalam sel yang terletak pada permukaan daun terdapat butir-butir yang halus berwarna hijau. Butir-butir ini dinamakan butir hijau daun atau butir chlorophyl, yang pembentukannya dipengaruhi oleh kesuburan tanaman serta banyaknya sinar matahari yang dapat diterima.
Daun mangga diselimuti oleh kulit tipis yang tidak terlihat dengan mata telanjang, yang dinamakan kulit air. Kulit ari ini berlubang-lubang kecil yang dinamakan mulut kulit. Melalui kulit inilah udara dapat ke luar atau masuk ke dalam badan daun. Tiap-tiap bagian tanaman mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Fungsi dari daun adalah: 1) untuk bernafas; 2) untuk asimilasi.
1. untuk bernafas
Hampir semua bagian tanaman melakukan pernapasan. Bukan hanya daun yang mempunyai fungsi pernapasan, tetapi juga batang, bunga dan akar-akarnya. Untuk memungkinkan akar bernapas, maka harus selalu tersedia udara segar di dalam tanah. Jadi dalam hal ini pengolahan tanah sangat penting agar memungkinkan akar dapat bernapas dengan baik.
Proses pernapasan ini sangat bergantung dari temperatur. Pada temperatur rendah atau udara sangat dingin, praktis pernapasan terhenti. Jika hal ini terjadi pada daun, maka pada daun tersebut akan terjadi pembakaran. Zat-zat yang terbakar dan keluar dari tanaman tersebut adalah zat gula. Reaksinya adalah sebagai berikut:
C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + energi
Pada proses pernapasan, tanaman mendapatkan energi untuk melakukan fungsi demi kelangsungan hidup seperti pertumbuhan, pengambilan air, pembuatan zat makanan dan lain-lain.
2. Assimilasi
Proses assimilasi adalah kelebihan dari pernapasan. Kalau pada pernapasan terjadi oksidasi dari zat gula, maka pada assimilasi terjadi pembentukan zat gula. Tanaman selain mendapatkan energi dari hasil pernapasan, juga dari matahari yang merupakan sumber energi besar. Jika matahari bersinar terang dan suhu tidak terlalu rendah, maka di dalam daun terjadi suatu proses yang dinamakan assimilasi. Dengan adanya zat-zat hijau daun dan sinar matahari, maka tanaman membentuk zat gula dari CO2 dari udara dan air dari tanah lewat akar. Reaksi ini disebut fotosintesis atau assimilasi. Reaksinya adalah sebagai berikut:
6CO2 + 12H2O 6C2H12O6 + 6O2
Fungsi zat hijau daun (klorofil) adalah menghisap cahaya matahari yang tak dapat dilakukan oleh CO2. O2 keluar melalui mulut daun, sedang zat gula melalui pembuluh tapis dikirim ke bagian-bagian lain dari tanaman. Seringkali pada tanaman terjadi pembentukan zat gula yang berkelebihan, yang dikirim ke lain-lain bagian; kelebihan ini dirubah menjadi zat pati. Pada malam hari, proses assimilasi berhenti karena tidak ada sinar matahari, maka zat pati dirubah kembali menjadi zat gula dan dikirim lagi ke bagian-bagian tanaman. Sebagian zat gula ini terdapat di dalam bagian-bagian tertentu dari tanaman, umpama: buah. Sebagian lagi dirubah menjadi zat putih telur. Jika diteliti bagian-bagian tanaman secara kimia, ternyata sebagian besar dari bagian-bagian tersebut terbentuk dari zat-zat yang dihasilkan dalam proses assimilasi.
Zat arang sebagai CO2 adalah bagian terpenting dari assimilasi. Arang sebagai bahan bakar adalah sisa-sisa dari tanaman, dan kalau dibakar akan berubah menjadi CO¬2 dan ini akan diambil oleh tanaman kembali dari udara.

Minggu, 26 Desember 2010

Akar pada Tanaman Dikotil




Tanaman dikotil berakar tunggang yang bercabang-cabang; dari cabang akar ini tumbuh cabang lagi kecil-kecil, cabang kecil ini ditumbuhi bulu-bulu akar yang sangat halus. Karena pengaruh gravitasi, akar tunggang tumbuh lurus ke bawah. Pertumbuhan cabang-cabang pada akar tunggang tadi membentuk sudut. Sedangkan pertumbuhan cabang yang kecil-kecil arahnya tidak menentu. Di samping itu arah akar dipengaruhi oleh keadaan tanah, lapisan batuan, celah-celah air dan sebagainya.
Kegunaan akar:
• Menguatkan tegaknya pohon atau tanaman.
• Menyerap zat-zat makanan dari dalam tanah.
• Alat pernapasan dalam tanah.
Cara mengambil zat-zat makanan dari dalam tanah adalah dengan bulu-bulu akar. Adapun prosesnya adalah sebagai konsentrasi larutan makanan dalam sel-sel bulu akar lebih tinggi daripada konsentrasi larutan dalam tanah. Oleh karena pengaruh osmose,maka masuklah larutan zat garam dari dalam tanah ke sel–sel bulu akar.
Tidak semua makanan dalam tanah itu diambil oleh bulu-bulu akar, hanya yag dibutuhkan oleh tanaman itu saja yang diambil. Jadi bulu-bulu akar ini dapat memilih makanan mana yang baik bagi kebutuhan tanaman.
Selain daripada itu bulu-bulu akar dapat pula menghancurkan makanan yang belum hancur. Dari dalam bulu akar dapat dikeluarkan semacam jenis asam yang dapat menghancurkan makanan tadi sehingga dapat dihisap oleh tanaman.

Selasa, 21 Desember 2010

Apakah hubungan Angin dan Ketinggian Tempat terhadap Pohon Mangga?




Angin akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman mangga. Karena tiupan angin yang kencang akan mempengaruhi dan mempercepat penguapan air dari tanah. Sehingga dari tanah yang semestinya bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan secara optimal menjadi berkurang. Akibatnya banyak buah yang rontok, dan cabang-cabangnya pun banyak yang patah. Bahkan kadang-kadang pohon pun bisa roboh sekaligus dengan akarnya akibat tiupan angin yang kencang. Untuk menghindari tiupan angin yang kencang, tepi kebun mangga harus ditanami tanaman yang tingginya melebihi tanaman mangga. Pohon tersebut harus mempunyai sistem perakaran yang tegak lurus ke bawah dan dalam. Di samping itu, pemeliharan tanaman pelindung perlu sekali, tetapi tidak boleh tumbuh terlalu liar, sebab hal ini akan menggangggu pertumbuhan tanaman mangga itu sendiri.
Tanaman mangga dapat tumbuh sampai pada ketinggian tempat lebih kurang 1.300 m dari permukaan laut. Akan tetapi di daerah yang tinggi, produksinya tidak begitu banyak, dan kualitasnya pun tidak baik. Jika kita ingin mengusahakan tanaman mangga yang produksinya optimal, sebaiknya ditanam pada suatu areal yang memilliki ketinggian maksimal 500 m di atas permukaan laut.
Masa berbunga tanaman mangga juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat dari permukaan laut. Karena letak geografis Indonesia berada di daerah tropis dengan posisi 11˚ lintang utara atau 6˚ lintang selatan, maka setiap kenaikan kira-kira 130 m, di tempat pohon mangga itu ditanam, masa pembungaan tanaman tersebut akan tertunda selama 4 hari. Hal ini sesuai dengan letak Indonesia yang berada di daerah tropis. Apabila tanaman mangga berada atau tambah satu derajad ke selatan atau ke utara, masa pembungaannya akan tertunda 4 hari.

Senin, 20 Desember 2010

Pengaruh Curah Hujan terhadap Pertumbuhan Pohon Mangga



Keadaan volume curah hujan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman mangga dan proses produksi pembentukan bunga dan buah. Kalau pada waktu musim bunga dan masa berbuah mulai masak tidak ada hujan, tanaman akan tumbuh dengan baik dan proses produksi akan berlangsung dengan baik pula. Sebaliknya, apabila pada waktu musim bunga, banyak turun hujan, berawan dan banyak kabut, proses pembentukan buah akan terganggu. Di samping itu, keadaan tersebut akan merangsang timbulnya hama dan penyakit yang penyebarannya cepat sekali.
Jadi, pada prinsipnya curah hujan hanya diperlukan pada waktu tidak musim bunga,yaitu pada masa pertumbuhan vegetatif untuk memacu pertumbuhan cabang, ranting serta tunas-tunas baru. Jumlah curah huja tidak begitu penting pada waktu musim bunga, tetapi kalau ternyata masih juga turun hujan sedikit, justru baik untuk pertumbuhan bunga, sebab akan menciptakan suasana udara sejuk, tetapi tidak lembab.
Prosentase pembagian curah hujan setiap tahun secara alami sangat penting pengaruhnya terhadap proses pembungaan. Sebab masa primordia bunga akan terjadi setelah musim hujan, sekurang-kurangnya setiap tahun kira-kira 10.000 mm, dan musim kering lebih kurang empat sampai enam bulan dengan curah hujan rata-rata melebihi 60 mm setiap bulan. Jika dalam jangka waktu yang cukup lama tidak ada hujan, maka pada areal tanaman dapat dibantu dengan pengairan. Sebab kalau kondisi kadar air tanah terlalu kering, bunga mangga dapat menjadi layu dan akhirnya pun kering.
Beberapa pengaruh curah hujan yang kurang menguntungkan pada waktu musim bunga adalah:
1. Air hujan akan mencuci butir-butir tepung sari dan akhirnya tepung sari tersebut jatuh bersama air hujan.
2. Hujan yang terlalu lebat bisa menyebabkan luka pada permukaan tubuh bunga, dan bahkan bisa merontokkan bunga.
3. Volume curah hujan yang tinggi mengakibatkan udara menjadi lembab, sehingga menimbulkan serangan cendawan dan wereng mangga yang lebih hebat, akhirnya banyak bunga maupun buah yang rontok dan panen pun gagal.
4. Selama hari-hari hujan, serangga penyerbuk tinggal diam bermalas-malasan, praktis mereka tidak melakukan penyerbukan, karena tidak dapat terbang.
5. Pada waktu hari-hari banyak awan, radiasi (pemancaran) panas matahari yang diterima bumi lalu dipantulkan, namun tertahan awan sehingga temperatur udara naik, dan udara menjadi tidak sejuk lagi (gerah). Peristiwa ini menimbulkan titik-titik uapan air panas yang banyak, yang bisa memacu pertumbuhan cendawan, akibatnya bunga atau pun buah mudah rontok.
6. Banyaknya embun dan kabut pun akan menggagalkan panenan, karena peristiwa ini juga mengakibatkan banyak bunga dan buah yang rontok seperti pada waktu banyak hujan.

Rabu, 15 Desember 2010





RESIDU PESTISIDA PADA PRODUK PERTANIAN
Penggunaan pestisida pada sektor pertanian memberikan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan kehidupan. Beberapa jenis pestisida mengandung sifat karsinogenik (penyebab kanker), terotogenik (perusak syaraf) dan perusak sistem endokrin. Serangga sebagai kelompok terbesar di dunia binatang memiliki daya tahan dan daya lenting yang tinggi dalam mengatasi berbagai tekanan lingkungan, termasuk tekanan akibat penggunaan pestisida.
Pestisida mempunyai kelebihan dibandingkan dengan cara pengendalian yang lain, yaitu antara lain:
• Dapat diaplikasikan dengan mudah
• Dapat diaplikasikan hampir di setiap tempat dan waktu
• Hasilnya dapat dilihat dalam waktu singkat
• Dapat diaplikasikan dalam areal yang luas dalam waktu singkat
• Mudah diperoleh

Pestisida juga harus diwaspadai karena dapat memberikan dampak negatif, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu antara lain:
 Keracunan dan kematian pada manusia
 Keracunan dan kematisn pada ternak dan hewan piaraan
 Keracunan dan kematian pada satwa liar
 Keracunan dan kematian pada ikan dan biota air lainnya
 Keracunan dan kematian pada biota tanah
 Keracunan dan kematian pada tanaman
 Keracunan dan kematian pada musuh alami OPT
 Pencemaran lingkungan hidup
 Terhambatnya perdagangan hasil pertanian



Pengendalian Hama Terpadu adalah sebagai berikut:
 Pengendalian Secara Biologis
 Penggunaan Varietas Tahan Hama
 Pengendalian Secara Mekanis
 Pengendalian Secara Kultur Teknis
 Pengendalian Tingkah Laku Hama
 Pengendalian Secara Genetik


KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
Tingkat kerusakan lingkungan berada pada kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Seperti halnya pada:
 Terus menurunnya kondisi hutan Indonesia
 Kerusakan DAS (Daerah Aliran Sungai)
 Habitat ekosistem pesisir dan laut semakin rusak
 Citra pertambangan yang merusak lingkungan
 Tingginya ancaman terhadap keanekaragaman hayati (biodiversity)
 Pencemaran air semakin meningkat
 Kualitas udara
 Sistem pengelolaan hutan secara berkelanjutan belum optimal dilaksanakan
 Lemahnya penegakan hukum
 Rendahnya kapasitas pengelola kehutanan
 Belum berkembangnya pemanfaatan hasil hutan non-kayu dan jasa-jasa lingkungan
 Potensi kelautan belum didayagunakan secara optimal
 Merebaknya pencurian ikan dan pola penangkapan ikan yang merusak
 Pengelolaan pulau-pulau kecil belum optimal
 Sistem mitigasi bencana alam belum dikembangkan
 Ketidakpastian hukum di bidang pertambangan
 Tingginya tingkat pencemaran dan belum dilaksanakannya pengelolaan limbah secara terpadu dan sistematis
 Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan

Untuk mengatasi permasalahan ini, dapat dilakukan beberapa cara, yaitu:
 Pengelolaan lingkungan bersama masyarakat
 Peningkatan tingkat pendidikan masyarakat
 Peningkatan analisis AMDAL dalam setiap usaha
 Pengeloaan limbah yang baik

Pencemaran Tanah Pertanian
Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Penyebab terjadinya pencemaran lingkungan sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia. Jumlah pencemaran yang sangat masal dari pihak manusia membuat alam tidak mampu mengembalikan kondisi ke seperti semula. Alam menjadi kehilangan kemampuan untuk memurnikan pencemaran yang terjadi. Sampah dan zat seperti plastik, DDT, deterjen dan sebagainya yang tidak ramah lingkungan akan semakin memperparah kondisi pengrusakan alam yang kian hari kian bertambah parah.
Penyebab pencemaran tanah
 Limbah domestik padat berupa sampah anorganik.
Jenis sampah ini tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (non-biodegradable), misalnya kan-tong plastik, bekas kaleng minuman, bekas botol plastik air mineral.
 Limbah industri
Limbah industry berupa limbah padat yang merupakan hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, bubur yang berasal dari proses pengolahan. Misalnya sisa pengolahan pabrik gula, pulp, kertas, rayon, plywood, pengawetan buah, ikan daging dll.
 Limbah pertanian
Limbah pertanian berupa sisa-sisa pupuk sintetik untuk menyuburkan tanah/tanaman, misalnya pupuk urea dan pestisida pemberantas hama tanaman, misalnya DDT.
Solusi untuk menanggulanginya adalah :
 Limbah domestik yang berjumlah sangat banyak memerlukan penanganan khusus agar tidak mencemari tanah. Pertama sampah tersebut kita pisahkan ke dalam sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme (biodegradable) dan sampah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (nonbiodegradable). Oleh karena itu, sangatlah bijaksana jika setiap rumah tangga dapat memisahkan sampah atau limbah atas dua bagian yakni organik dan anorganik dalam dua wadah yang berbeda sebelum diangkut ketempat pembuangan akhir.
 Sampah organik yang terbiodegradasi dapat diolah, misalnya dijadikan bahan urukan, ke-mudian kita tutup dengan tanah sehingga terdapat permukaan tanah yang dapat kita pakai lagi; dibuat kompos; khusus kotoran hewan dapat dibuat biogas.
 Sampah anorganik yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme. Cara penanganan yang terbaik dengan pendaur-ulangan sampah.
 Mengurangi penggunaan pupuk sintetik dan berbagai bahan kimia untuk pemberantasan hama seperti pestisida.

Alih Fungsi Lahan
Pengelolaan lingkungan pertanian merupakan upaya terpadu dan penyelesaian masalah alih fungsi lahan pertanian. Penggunaan lahan adalah merupakan setiap bentuk campur tangan manusia terhadap sumberdaya lahan, baik yang sifatnya menetap (permanent) maupun daur (cyclic) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya.
Permasalahan Alih Fungsi Lahan
 Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta petambahan penduduk menuntut perlunya penyediaan sumber daya untuk memenuhi konsumsi pangan dan areal pemukiman.
 Alih fungsi lahan disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global.
 Salah satu faktor penyebab indonesia lebih condong berkembang kearah pembangunan yaitu kebijakan pemerintah.
 Adanya kepentingan pribadi dari seorang investor untuk memanfaatkan banyaknya peluang bisnis demi meraih keuntungan. Kejadian tersebut yang mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan, tidak hanya melibatkan tindakan seorang investor semata, akan tetapi didukung oleh kebijakan dari pemerintah daerah yang memberikan izin untuk membangun perumahan.
Untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara:
Menjaga keseimbangan atau ketersediaan sumberdaya alam, apabila kita sudah menggunakannya dan mendapatkan manfaatnya, jangan lupa untuk merawatnya dan melestarikannya kembali.